|
BERITA TERBARU KOBANGDIKAL |
| ”Baret Ungu” Untuk 99 Prajurit Baru Marinir |
|
Kobangdikal, Surabaya (10/3) Komando Pendidikan Marinir (Kodikmar) Kobangdikal menggelar upacara tradisi pembaretan bagi 99 orang prajurit baru Korps Marinir yang disematkan Danpasmar I Brigjen TNI Marinir I Wayan Mendra mewakili pemimpin tertinggi Korps Marinir, Dankormar Mayor Jendral TNI Marinir Alfan Baharudin di Puslatpur Marinir Grati, Pasuruan, Rabu (10/3) dini hari tadi. Upacara tradisi yang digelar dibibir pantai Puslatpur Grati tesebut dihadiri para pejabat teras Korps yang berlambang ’Keris Samudra’ dari Jakarta maupun Surabaya, Inspektur Kobangdikal Kolonel Laut (T) Drs. Edwi Rahardjono serta pejabat lainnya. Dari 99 orang prajurit yang berhak memakai baret kebanggaan korps marinir tersebut, 38 orang diantranya adalah Kadet (Taruna) Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan 56, 60 orang siswa Pendidikan Pertama Tamtama (Dikmata) Prajurit Karier angkatan 29 dan 1 orang mantan siswa Dikmata PK angkatan 29 yang harus ngulang karena tidak lulus pendidikan komando (Dikko) pada periode sebelumnya. Menurut Dankormar dalam amanatnya yang dibacakan Danpasmar I, upacara pembaretan ini adalah salah satu tradisi Korps Marinir mengandung makna penting dan bersejarah bagi setiap prajurit Korps Marinir. ”setelah diresmikan pemakaian baret, seorang prajurit secara sah menjadi keluarga besar korps marinir, sekaligus memiliki kewajiban mutlak berprilaku dan bertindak sesuai landasan moral prajurit Korps marinir,” terang orang nomor satu Korps Baret Ungu ini. Bagi Kadet, lanjutnya, nilai-nilai moral tersebut harus sudah tercermin dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari di lembaga pendidikan AAL, sehingga dalam proses pembelajaran secara bertahap karakter prajurit Korps Marinir sudah mulai terbentuk dan berkembang. Sementara bagi siswa Dikmata, pemakaiana baret Marinir adalah titik awal memulai proses pengabdian kepada negara dan bangsa melalui Korps Marinir TNI AL. ”Mulai saat ini, tumbuhkan dan pupuk kesadaran baru bahwa kalian sebagai prajurit Marinir harus menjadi kebanggaan rakyat yang bisa di handalkan untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI,” serunya. Tradisi pembaretan ini, imbuhnya memiliki makna historis, yakni merupakan bagian dari proses pembentukan karakter prajurit melalui tahapan pendidikan, pelatihan, pembinaan dan penanaman nilai-nilai luhur di Dikawah Candradimuka Kodikmar Kobangdikal, sehingga saat ini seluruh produk Candradimuka tersebut telah menjadi sebuah korps yang besar dan mebanggakan. Sementara itu menurut Komandan Pusat Pendidikan Infantri Marinir (Danpusdikinf) Kolonel Marinir Amin Budi Cahyono, sebelum prajurit marinir berhak mengenakan baret ungu, maka pajurit tersebut harus mengikuti pendidikan Komando (Dikko) yang berlangsung 3 bulan. ”Bagi prajurit Korps Marinir, Pendidikan Komando (Dikko) wajib hukumnya untuk diikuti oleh calon-calon prajurit marinir. Setelah Dikko, mereka sah menjadi keluarga besar korps marinir sekaligus berhak mengenakan ’baret Ungu’ baret kebangggan Marinir,” terang mantan komandan Denmako Kobangdikal ini. Dikko yang dilaksanakan selama tiga bulan ini, lanjutnya, sarat dengan ujian ketahanan mental, fisik dan intelegensia para peserta didik. Pendidikan Dikko Marinir memang dikenal keras dan tidak kenal kompromi. Ada lima tahapan berat yang harus dilewati untuk dapat menyelesaikan pendidikan guna mendapatkan baret ungu ini. Tahap Laut menjadi ujian pertama yang harus dilalui, kemudian beranjak ke Tahap Komando, Tahap Hutan, Tahap Grilya Lawan Grirya (GLG) dan terakhir Tahap Lintas Medan dengan menempuh jarak 340 Km dari Bayuwangi menuju Surabaya dengan berjalan kaki memotong 4 pegunungan di Jawa Timur.@Penkobangdikal
|
| Situs Terkait |
|---|
|
SEMANGAT BARU TNI AL
AGENDA KEGIATAN KOBANGDIKAL ![]() ![]() (Sertijab Wadan Kobangdikal) ![]() (Lomba Mancing Hardikal 2010) (OR Bersama Hardikal 2010) |